Odontektomi Dalam Kedokteran Gigi

Odontektomi Dalam Kedokteran Gigi

Odontektomi Dalam Kedokteran Gigi – Halo sobat blogger, kali ini kita akan membahas tentang salah satu perawatan di bidang bedah mulut yaitu odontektomi. Di sini saya akan memaparkan definisi, indikasi, tahapan persiapan, dan berbagai hal yang berhubungan dengan odontektomi. Oke sekarang kita bahas satu-persatu tentang odontektomi dalam kedokteran gigi.

odontektomi

Definisi Odontektomi

Menurut Archer: Odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang disekitar akar bukal dengan chisel, bur, atau rongeurs.

Menurut Fragiskos: Odontektomi adalah metode pengambilan gigi dari soketnya setelah pembuatan flap dan mengurangi sebagian tulang yang mengelilingi gigi tersebut.

Indikasi Odontektomi

Menurut Pedersen (1996) indikasi odontektomi antara lain :

a. Kegagalan pencabutan dengan tang.

  • Adaptasi tang yang tidak tepat/gagal (mahkota/akar rusak atau malposisi).
  • Mahkota fraktur.
  • Tidak berhasil mengekspansi alveolus.

b. Kemungkinan terjadinya fraktur akar.

  • Akar yang panjang dan kecil.
  • Akar yang mengalami dilaserasi.
  • Gigi yang dirawat endodontic (getas).
  • Tulang pendukung yang padat.
  • Celah ligament periodontal yang sempit.

c. Kedekatan dengan struktur disekitarnya.

  • Gigi yang lain (arah pengeluaran terhalang gigi lain).
  • Sinus maxilaris.
  • Canalis mandibularis.

d. Untuk mempertahankan tulang alveolus yang mendukungnya.

  • Gigi kaninus atas.
  • Gigi ankilosis.

 

Menurut Fragiskos (2007) indikasi odontektomi antara lain :

a. Gigi RA atau RB dengan morfologi akar gigi yang tidak biasa.
b. Hipersementosis akar, akar tipis dan akan yang membulat.
c. Akar yang mengalami delaserasi.
d. Gigi ankilosis atau gigi-geligi yang mengalami abnormalitas (contoh : dens in dente).
e. Impaksi dan semi-impaksi.
f. Gigi yang fusi dengan gigi disebelahnya, gigi yang fusi pada daerah apical dengan gigi tetangganya.
g. Akar gigi yang ditemukan dibawah garis gusi.
h. Akar dengan lesi periapkal.
i. Gigi molar desidui yang akarnya memeluk mahkota gigi premolar permanen.

 

Klasifikasi Impaksi Molar 3

1. Klasifikasi Impaksi Gig Molar 3 Rahang Bawah

a. Menurut Winter (1926)
·Vertikal
·Horizontal
·Inverted
·Unusual
·Mesioangular
·Distoangular
·Buccoangular
·Linguoangular

 

b. Menurut Pell & Gregory (1933)

odontektomi
Klasifikasi Impaksi Pell & Gregory (1933)

Berdasarkan ruang antara ramus dan sisi distal M2 : à 3 klas

  1. Klas I ruang cukup
  2. Klas II ruang kurang
  3. Klas III tidak ada ruang/M3 dalam ramus mandibula.

Berdasarkan relasi antara ramus mandibula dan molar kedua meliputi.

  1. Posisi A bagian tertinggi dari gigi terletak lebih tinggi atau sejajar dengan garis oklusal gigi M2.
  2. Posisi B bagian tertinggi dari gigi terletak diantara garis oklusal dan garis servikal gigi M2.
  3. Posisi C bagian tertinggi dari gigi terletak dibawah servikal line gigi M2.

 

c. Menurut Archer (1975) : Gabungan antara Winter dengan Pell & Gregory

odontektomi
Klasifikasi Impaksi Archer (1975)

 

d. Menurut Wright (1985) : bentuk akar gigi

– Akar lurus terpisah atau fusi
– Akar bengkok ke distal/mesial
– Kombinasi

 

2. Klasifikasi Impaksi Gig Molar 3 Rahang Bawah

Sistem klasifikasi untuk impaksi gigi M3 maksila pada dasarnya sama dengan impaksi gigi M3 mandibula. Meskipun demikian beberapa perbedaan dan penambahan harus dibuat untuk menjadikannya lebih akurat dalam prosedur perawatan.

Berdasarkan angulasinya, tiga tipe impaksi untuk M3 maksila adalah :

  • vertical impaksi
  • distoangular impaksi
  • mesioangular impaksi

odontektomi

Vertikal impaksi terjadi pada hampir 63% kasus, distoangular impaksi terjadi 25%, mesioangular impaksi terjadi pada 12% kasus. Posisi yang lain namun terjadi hanya kurang dari 1% seperti : transverse, inverted, dan horizontal. Impaksi vertikal dan distoangular lebih mudah diekstraksi sementara mesioangular lebih sulit. Mesioangular impaksi lebih sulit karena tulang yang diatas gigi imnpaksi yang harus dibuang atau diekspansi terletak di posterior dari gigi (lebih sulit dibandingkan distoangular atau vertikal impaksi).

Posisi M3 maksila dalam arah bukopalatal juga menentukan tingkat kesulitan ekstraksi. Kebanyakan M3 maksila menyudut ke bukal aspek dari alveolar prosesus, yang membuat tulang diatas area tersebut tipis dan menjadikannya mudah untuk diekstraksi atau diekspansi. Terkadang impaksi gigi M3 maksila menyudut ke aspek palatal dari prosesus alveolar. Hal ini membuat gigi lebih sulit untuk diekstraksi, karena sejumlah besar tulang harus dihilangkan untuk mendapatkan akses ke gigi.

The Pell dan Gregory mengklasifikasikan impaksi berdasarkan hubungannya dengan oklusal plane menjadi A, B, dan C.

  • Kelas A permukaan oklusal M3 sejajar dengan permukaan oklusal M2.
  • Kelas B permukaan oklusal dari M3 terletak diantara oklusal plane dan cervikal line M2.
  • Kelas C permukaan oklusal M3 dibawah cervikal line M2.

odontektomi

Faktor yang mempersulit ekstraksi gigi M3 maksila diantaranya adalah bentuk individual akar dari M3. akar yang fusi lebih mudah diekstraksi dibandingkan akar yang erratic (menyebar). Folikel yang mengelilingi gigi impaksi juga mempersulit ekstraksi. Jika folikel luas gigi lebih mudah diekstraksi dibandingkan jika polikel tipis atau idak ada. Densitas tulang juga mempersulit ekstraksi gigi M3. pasien muda lebih dense dan elastik. Hubungan dengan M2 juga mempengaruhi kesulitan ekstraksi gigi M3.

Faktor lain yang mempengaruhi kesulitan ekstraksi M3 maksila dibandingkan mandibula adalah kehadiran sinus maksilaris. Jika akar M3 berkontak dengan maksilari sinus, ekstraksi gigi M3 akan menghasilkan komplikasi sinus maksilari seperti sinusitis atau oroantral fistula. Terakhir, ekstraksi dari gigi M3 maksila dapat membuat tuberositas maksila menjadi fraktur.

Impaksi Gigi Lainnya
Setelah M3 mandibula dan maksila, gigi lain yang terkadang impaksi adalah Canine. Jika gigi terletak diatas dalam kelas B atau C dan menyudut ke labial aspek. Penanganannya dapat dilakukan dengan prosedur flap dan orthodontic appliances. Teknik flap yang digunakan adalah dengan insisi anterior, inferior, dan posterior mukosa. Kemudian flap diangkat dan diretraksi ke apical (apically repositioned flap). Tulang yang ada dibersihkan dengan chisel atau bur dan flap di posisikan ke apikal lalu dijahit. Setelah itu diberikan periodontal pack sampai proses healing terjadi. Setelah 7-10 hari orthodontist dapat melakukan pemasangan bracket pada gigi untuk menariknya kearah yang diinginkan.

Tahapan Odontektomi

Fragiskos (2007) mengemukakan bahwa tahapan odontektomi baik pada akar tunggal maupun akar multiple adalah sama. Tahapan tersebut meliputi :
a. Pembuatan Flap
b. Pengurangan tulang dan pemaparan tulang
c. Ekstraksi gigi atau akar gigi dengan elevator atau tang.
d. Suturing dan perawatan post operasi.

Komplikasi pada waktu operasi M3
Perdarahan
Fraktur akar gigi M3
Kerusakan gigi M2
Fraktur mandibula
Fraktur tuberositas maksila

Alat dan Bahan Odontektomi

Alat dan bahan yang digunakan antara lain :
1. Spuit injeksi dan extracain
2. Scalpel dan scalpel holder
3. Bur bulat
4. Needle dan needle holder
5. Bone file
6. Pinset chirurgi
7. Suction, Suction yang digunakan bervolume kecil dan ujung aspirator harus sempit.
8. Tang molar RB
9. Bein
10. Suture
11. Kapas, alcohol, iod dll.

 

PROSEDUR BEDAH ODONTEKTOMI

Pembuatan Flap
Flap dibuat untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur tulang atau gigi (Pedersen, 1996). Tipe flap menurut Fragiskos (2007) antara lain :
a. Trapezoid

  • Dibentuk dengan membuat insisi horizontal sepanjang gingival dan dua insisi melintang pada mukosa bukal
  • Dasar flap yang lebih lebar sangat dibutuhkan untuk suplai darah yang baik dan adekuat
  • Flap tipe ini dibutuhkan untuk prosedur operatif yang luas

b.Triangular

  • dibentuk dengan membuat insisi bentuk L dan insisi horizontal sepanjang gingival
  • diindikasikan untuk pengambilan ujung akar, kista kecil dan apikoektomi

c. Envelope

  • Flap tipe ini adalah hasil perluasan insisi horizontal sepanjang garis servikal gigi
  • Biasa digunakan untuk pembedahan gigi insisivus, premolar dan molar

d. Semilunar

  • Insisi flap berbentuk kurva
  • Memberikan fasilitas jalan masuk ke apical
  • Melindungi terkoyaknya tepi gingival

e. Pedikel

  • Flap pedikel dibuat baik dibukal, lingual atau palatal
  • Digunakan untuk migrasi atau transposisi untuk memperbaiki suatu cacat (contoh : fistula oroantral atau nasoalveolar).

f. Flap insisi Y dan X

  • Dibuat pada midline palatum

 

odontektomi

 

Pengurangan tulang dan pemaparan tulang

Pengambilan Tulang Diatas Gigi Impaksi. Setelah soft tissue diangkat, dokter gigi harus menentukan bagian tulang mana yang akan diambil. Pada beberapa kasus, gigi bisa langsung dipotong dengan chisel tanpa harus dilakukan pengambilan tulang. Pengamilan tulang dilakukan dengan menggunakan drill. Alat yang biasa digunakan handpiece with adequate speed, high torque, round bur no.8, dan telah disterilkan dengan steam autoclave.  Tulang yang diatas permukaan oklusal, bukal, dan distal dibuang lebih dulu. Jarang dilakukan pada bagian lingual karena membahayakan lingual nerve. Untuk gigi maksila, tulang yang pertama diambil bagian bukal kebawah sampai servikal line dan terlihat mahkota klinisnya. Karena tulang di maksila tipis, pengambilan tulang bisa dengan chisel atau hand instrumen.

odontektomi

Pemotongan Gigi. Dilakukan dengan bur atau chisel. Bur jangan digunakan untuk memotong dalam arah lingual.  Impaksi gigi maksila jarang dilakukan pemotongan gigi, karena lapisan tulang biasanya tipis dan relative elastis. Secara umum impaksi gigi dimanapun berada, pemotongan biasanya dilakukan pada servikal line. Hal ini akan memudahkan pengambilan bagian mahkota, mendorong bagian akar ke ruang yang ditempati bagian mahkota, kemudian mengangkat bagian akar.  Pada kasus mesioangular yang cenderung sulit, pemotongan dilakukan pada bagian distal setengah mahkota gigi sampai ke bawah cervical line dari aspek distal. Setelah bagian distal diangkat, small straight elevator disisipkan ke purchase point pada mesial aspek M3, dan gigi diangkat dengan gerakan rotasi dan lever dengan elevator. Pada kasus horizontal impaksi setelah tulang yang diinginkan diambil, gigi dipotong tepat di servikal line, kemudian pengangkatan bagian gigi sama dengan pengambilan gigi secara umum. Pada kasus vertical impaksi gigi dipotong menjadi bagian mesial dan distal.

Ekstraksi gigi atau akar gigi dengan elevator atau tang

Pengambilan Potongan Gigi dengan Elevator. Setelah tulang dibersihkan dan gigi dipotong, langkah selanjutnya adalah mengangkat potongan gigi dengan dental elevator. Pada mandibula elevator yang biasa digunakan adalah straight elevator, the paired Cryer elevator, dan Crane pick. Perbedaan pengambilan gigi impaksi dengan ekstraksi biasa adalah pada pengambilan gigi impaksi hampir tidak diperlukan luksasi gigi untuk tujuan ekspansi bucal or linguocortical plate. Karena tulang telah dibuang dan gigi telah dipotong. Pemberian tekanan yang eksesive malah akan membahayakan gigi M2 sebelahnya dan keseluruhan mandibula. Elevator didesain bukan untuk memberikan tekanan berlebih pada gigi akan tetapi untuk mencungkil gigi atau akar gigi kearah yang diinginkan dengan tekanan yang sesuai.

Debridement of  Wound and Wound Closure. Setelah gigi impaksi diangkat, langkah berikutnya adalah pembersihan wound (soket) dari semua debris yang mungkin ada dari pecahan tulang dan lainnya. Pembersihan dengan irigasi salin sterile dan pembersihan mekanis dengan periapikal kuretase. Tulang hasil kuretase harus halus dan pinggirannya tidak tajam. Sebuah mosquito hemostat dapat digunakan untuk mengambil sisa dental folikel.
Penutupan insisi adalah penutupan yang dilakukan pertama kali. Jika disain flap baik dan tidak traumatized maka flap akan dengan mudah dikembalikan ke tempat asalnya. Penjahitan awal dibuat melalui attach tissue / perlekatan jaringan pada aspek posterior dari M2, jahitan tambahan dilakukan ke belakang dari posisi tersebut dan kedepan melalui papila pada sisi mesial dari M2. Biasanya 3-4 jahitan diperlukan untuk menutup flap bedah.
Perawatan Post Operasi Odontektomi
Menurut Wray dkk. (2003), instruksi post operasi dapat dikemukakan langsung kepada pasien atau dapat pula diprint. Instruksi post operasi tersebut meliputi :
1. Perawatan rongga mulut
  • Hindari berkumur pada enam jam pasca pencabutan
  • Gunakan air garam hangat (1 sendok the dalam 1 gelas) untuk berkumur secara lembut.
  • Jangan menyentuh-menyentuh luka dengan lidah atau jari.
  • Sikat gigi lainnya tetapi hindari daerah luka dan soket gigi.
  • Sebisa mungkin membatasi gerakan lidah dan pipi.
2. Nyeri
  • Rasa sakit dan tidak nyaman beberapa saat setelah pencabutan adalah hal yang normal.
  • Dokter meresepkan analgesic dengan dosis yang tepat dan tidak berlebihan.
  • Minum analgesic sebelum efek anestesi hilang.
  • Bila 24-48 jam nyeri belum sembuh, segera mencari pertolongan.
3. Perdarahan
  • Perdarahan yang ringan biasa terjadi pada 24 jam pertama.
4. Pembengkakan
  •  Pembengkakan pasca pencabutan adalah hal yang umum.
  • Pembengkakan mencapai puncaknya kurang lebih 24 jam sesudah pembedahan.
  • Cara yang terbaik untuk mengatasi pembengkakan adalah dengan kompres dingin pada daerah wajah di dekat gigi yang dicabut.

 

Sekian informasi singkat dari saya tentang odontektomi, semoga dapat bermanfaat.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *